Tiba-tiba emosi saya memuncak, seakan ingin membanting laptop yang ada di depan saya. Bukan karena benci menggunakan piranti itu, tapi kesal dengan kondisi dadakan yang menghampiri. Untuk kesekian kalinya saya ditugaskan membuat sambutan Direktur Utama (Dirut). Sambutan ini memang salah satu tugas seorang humas seperti saya. Mau tak mau, suka tidak suka, kami harus mampu membuat rentetan kata-kata yang akan dimuntahkan oleh sang pimpinan.
Tugas mendadak ini memang bukan kali pertama saya hadapi. Sering saya mendapati tugas tersebut. Tapi yang membuat emosi memuncak adalah topik yang diserahkan. Topik kali ini tidak sembarangan. Topik yang akan disampaikan oleh dirut saya mengenai hal krusial, yang menurut saya butuh cukup waktu untuk mempelajarinya. Tapi apa daya, saya toh hanya punggawa kecil di perusahaan ini.
Ingin rasanya menolak tugas, lalu bilang "membuat sambutan tidak segampang yang Anda kira, tidak hanya butuh waktu 1 jam untuk menuntaskannya!". Namun, kata-kata itu tak mungkin saya lontarkan. Semua ada resikonya.
Akhirnya saya hanya diam, memfokuskan pikiran pada satu topik yang telah ditentukan, dan mulai merangkai kata-kata terbaik untuk sang direktur. Bisa dibayangkan, sebuah sambutan dengan tema yang sangat sulit (menurut saya), harus diselesaikan dalam waktu kurang dari 3 jam. Sambutan itu juga harus sarat makna dan pesan sehingga tak mempermalukan sang orator.
Teman-teman pasti pernah mendengar pidato RI 1 atau orang terkenal lainnya. Bahasanya lugas, penuh semangat, dan tak jarang mampu memengaruhi pikiran dan perilaku banyak orang. Itulah kehebatan orang di balik naskah pidato.
Tapi saya bukan atau lebih tepatnya belum menjadi seorang dengan kehebatan seperti itu. Saya hanyalah bagian kecil dari permainan image sang pemimpin. Saya setidaknya harus mampu membuat seluruh insan yang mendengar pidato direktur saya paham dan tahu maksud dari apa yang disampaikan.
Kepuasan saya adalah ketika pidato tersebut mendapat apresiasi dari yang mendengarnya. Mungkin hanya saya satu-satunya orang yang jantungnya berdegup kencang ketika Dirut mulai membacakan pidatonya. Perasaan takut salah, dan segalanya berkecamuk. Dan mungkin tak semua orang tahu itu.
Terkadang, saya hanya bisa tersenyum simpul ketika pidato tersebut mendapat apresiasi atau sekedar gemuruh tepukan dari pendengar. Saya merasa puas, merasa menang, seperti menang dalam sebuah balapan tunggal. Mungkin itu kepuasan saya.
Tapi banyak hal yang sulit dicerna. Ketika saya membuat naskah tersebut, ada tone-tone tertentu dengan semangat berapi-api, saya ingin dirut pun membacanya dengan semangat dan tekanan tertentu. Namun, kadang hal itu tak disampaikannya, hanya datar biasa. Akhirnya, kata-kata cuma mengalir tanpa makna.
Mungkin itu sedikit kegundahan saya di sore ini. Menunggu bedug magrib bergema.  | soenggoeh, selakoenja rakjat, kami toeroet prihatin...gigihlah, kawan, semoga jang terbaik datang kemoedian. |
| |
|